KISS (Kisah Indah Seoarang Supir)
Oleh : Tanto Purnomo
Terik
mentari menyinari bumi yang ku pijak. Lalu lalang berjuta umat menambah
pengapnya udara kota ini. Gerah .. aku gerah.. setiap kali berjumpa lampu merah
dipersimpangan jalan. Seakan menjadi momok yang teramat menjengkelkan harus
berhenti dan menunggu lampu hijau, panasnya itu seperti neraka bocor. Namun
sekejam apapun dunia ini jika ikhlas menjalaninya maka nikmat Tuhan mana lagi
yang akan engkau dustakan. Firman itulah pedomanku dalam menjalani pekerjaan
mulia ini.
Aku
menghela nafas perlahan, menggelengkan kepala setiap kali berjumpa remaja
ugal-ugalan. “hati-hati bro.. loe mati gue rugi” ujarku kesal.
Bising-bising
kendaraan lalu lalang terdengar bagai irama penghibur hati ini yang sepi.
Lelah
letih lunglai yang kurasa tiada menurunkan semangatku untuk terus melajukan
mobil besar tua ini.
Hidup
dan matiku di jalan lintas ini.
Sungguh
mulia yang kukerjakan. Setiap detik mata ini tak boleh terlelapkan. Pandangan
menatap tajam demi tujuan dan keselamatan. Bayangkan? Apa yang akan terjadi
Jika aku terlelap sedetik saja.
Bising-bising
kendaraan terdengar bagai kicauan merdu di tengah teriknya mentari.
Seruan
adzan bergema di sepanjang jalan. Apa bisa dikata, aku dan mobil besarku ini
tiada bisa seenaknya berhenti dipinggiran jalan. Dosa. Aku takut dosa. Ampuni
hamba ya Tuhan yang tiada mengindahkan seruan-Mu.
Waktu
terus berlalu. Senja mulai menyapa.
Tiba-tiba
terdengar suara dari perutku. Oh aku lapar. Aku memutuskan untuk menepi guna
memulihkan energiku yang telah hilang. Ku pesan secangkir kopi hangat dan
sepiring makanan kesukaanku.
Tak
lama berselang hidangan habis ku santap. Ku rebahkan tubuh ini yang terasa
letih.
Bising-bising
kendaraan terdengar bagai lagu pengantar tidur.
Ingin
sekali rasanya kupejamkan mata ini, namun letih ini buatku tak bisa.
Hening
sejenak.
Terlintas
di benak ini. Aku rindu. Ya aku rindu dengan keluargaku. Sedang apa mereka?
Tersenyum atau menangiskah mereka? Sungguh aku rindu.
Apalah
daya, setiap hari aku melintasi jalanan.
Seminggu
sekali,tidak. Sebulan sekali, tidak. Oh setahun sekali aku hanya bisa berkumpul
dengan mereka. Setidaknya aku bukan bang Toyib yang tak pulang-pulang.
Aku
dan keluargaku bak matahari merindukan bulan. Menyinari dikala siang, menerangi
dikala gelap gulita. Tak pernah bisa bersama. Namun ada kalanya matahari
bertemu bulan dikala pagi hari. Ya begitulah kami.
Bising-bising
kendaraan terdengar bagai melodi penuh cinta penghibur hati dikala rindu.
Gema
adzan maghrib berkumandang, ku langkahkan kaki ini menuju masjid diseberang
jalan. Ku basuh muka, bersuci mengharapkan ridho illahi. Bersujud, bertasbih
memuji sang Kholiq. Ku tengadahkan tangan ini, ku ceritakan keluh kesahku.
Berdoaku mengharapkan rizki-Nya. Aku tak takut jika doaku tak terkabul, aku
hanya takut jika aku tak pernah berdoa kepada-Nya. Ujarku mencoba berkata bijak
dalam hati.
***
Lima
tahun silam. Sebelum aku menjadi seorang supir.
Pengangguran.
Hidup dalam segala kesulitan. Kenyataan sulit mencari pekerjaan di negeri ini. Dipandang
tak bermartabat setiap insan yang memandang.
Harta
benda aku tak punya, hanya gubuk tua dan seorang istri titipan Tuhan yang
begitu sholehah.
Pernah
suatu waktu..
“mas..
beras di dapur sudah habis. Uangpun tak ada untuk membelinya,” ujar istriku
berkata denga mencoba tetap tegar dan tersenyum walau aku tahu bahwa dia sedang
diliputi kesedihan.
Bagai
purnama ditelan gerhana. Hatiku tak karuan mendengar akan hal itu.
Menghela
nafas sejenak. mencoba mencari kata bijak yang ingin kujawab.
“mas
pergi keluar sebentar ya.. adik tunggu saja di rumah. Doakan mas dapat beras
hari ini untuk makan kita berdua.” Jawab ku sambil tersenyum.
Anisa
istriku mengangguk iya.
Annisa
adalah titipan Tuhan yang begitu sempurna. Anisa istriku adalah seorang pegawai
honorer di sebuah sekolah dasar di desaku. Gajinya yang tak seberapa, untuk
makan pun sulit. Tapi walau bagaimanapun ia tetap hormat dan patuh denganku
sebagai kepala keluarga.
Ku
terus berjalan menyusuri desa untuk mencari sesuap nasi. Berharap ada seseoarang
yang sedang membutuhkan bantuan pekerjaan.
Tak
lama berselang ku lihat ada seseorang sedang mengharapkan bantuan tenaga untuk
mengangkat barang ke mobil. Aku membantunya hingga diberi rupiah. Walaupun tak
seberapa namun cukup untuk membeli beras.
Aku
pulang dengan membawa beras untuk istriku. Badan ini terasa sangat lelah, namun
semua itu hilang ketika sampai dirumah. Aku disambut dengan senyuman,dicium
tanganku yang kotor ini oleh istriku. Subhanallah.
***
Ah
aku terlalu kembali ke masa lalu, yang tiada akan pernah aku jumpai lagi. Kini
aku adalah seorang ayah dari anakku dan aku harus bekerja demi mencukupi
kebutuhan keluarga kecilku.
Beranjak
pergiku dari masjid setelah beberapa saat mengenang masa lalu.
Aku
haus..
“bu..
aku beli minuman yang ini” aku memberikan uang kepada pedagang itu.
Aku
merasa sangat haus. Namun ketika hendak
ku teguk minuman ini, datang seorang anak kecil yang juga kehausan. Ku
berikan minum ku ini untuk anak itu dan aku membelinya lagi untuk bekal ku
dalam perjalanan.
Bising-bising
kendaraan terdengar bagai lagu penuh cerita indah. Rembulan berhias diri yang tiada ditemani
bintang.
Berkelana
di tengah lalu lalang berjuta umat malam itu. Gemerlap keindahan kota dan kelap
kelip lampu kendaraan sejauh mata memandang. Seakan bagai penghibur hati ini
yang sendiri.
Saat
bulan disimpan awan, hati ini gundah. Mereka berpasangan, aku sendiri. Mereka
jalan berdua,aku jalan sendiri.
Iri
rasanya hati ini jika harus melihat orang lain selalu bersama sedangkan aku
bersama dalam kesendirian. Aku tidak pernah menjadi seperti
mereka. Hidup dalam kemewahan,kenyamanan. Kekal rasanya duduk di singgahsana,
yang kecil tiada artinya.
Bising-bising
kendaraan kini hampir tiada terdengar. Bulan tiada memancarkan sinarnya,
mendung. Tiba-tiba hujan deras membasahi bumi. Aku melaju perlahan demi sebuah
keselamatan.
Hujan
tak lama meneteskan airnya.
Bising-bising
kendaraan kini tiada terdengar lagi. Sepi.
Kala
masa lewat tengah malam, semua orang tertidur dengan pulasnya, bermimpi
indahnya, disaat itu lah mobil ini dapat berkelana dengan cepat, seakan tiada
tembok penghalang.
Di
kala pagi menyapa, semua orang berpenampilan rapi,berbau wangi, sedangkan aku
terbaring tidur dalam mobil untuk memulihkan stamina raga ini.
Apakah
aku dihargai? Apakah aku dihormati? Pertanyaan itulah yang muncul dari seorang
supir. Hina menyapa dikala insan Tuhan memandang supir dengan sebelah mata.
Biarlah
orang berkata apa.
Inilah
aku dan inilah hidupku. Kisah Indah Seorang Supir.
Komentar
Posting Komentar