Biofuel Production from
Integrated Farming System
Oleh:
Tanto Purnomo
Menipisnya
cadangan bahan bakar fosil membuat kebanyakan orang mulai melirik untuk
menggunakan bahan bakar nabati atau yang disebut dengan biofuel. Biofuel ini
diperoleh melalui proses fermentasi karbohidrat atau ekstraksi minyak
biji-bijian. Sebagai negara agraris, Indonesia mempunyai banyak tanaman yang
bisa dijadikan bahan pembuatan biofuel. Hanya saja penggunaan bahan untuk
pembuatan biofuel masih sering bersaing dengan kebutuhan pangan manusia,
sehingga pengembangan energi biofuel masih belum optimal. Untuk mendorong
kegiatan ini Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Nasional diantaranya
menetapkan target produksi biofuel pada tahun 2025 mencapai 5% dari total
kebutuhan energi minyak nasional.
Upaya
untuk mengembangkan produksi biofuel bisa dilakukan dengan adanya kerjasama
antara Pertamina EP sebagai perusahaan hulu migas dengan usaha agro-kompleks. Usaha
agro-kompleks tersebut sangat potensial dalam menghasilkan bahan bakar biofuel,
terutama sistem usahatani yang terintegrasi. Pertamina EP diharapkan
berkontribusi menyediakan teknologi bioproses sebagai alat untuk mengembangkan
biofuel. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan masyarakat
menggunakan bahan bakar fosil yang semakin menipis. Teknologi bioproses ini
adalah teknologi yang berfungsi untuk membuat tanaman menjadi bahan bakar
biodiesel ataupun bioethanol. Namun perlu terus dipikirkan juga bentuk
kebijakan yang baik agar pengembangan biofuel ini tidak terlalu bersaing dengan
kebutuhan pangan manusia.
Lalu apa hubungan
antara sistem integrasi usahatani dengan produksi biofuel?
Sistem
integrasi usahatani (IFS) merupakan suatu usaha yang memadukan antara tanaman
dan ternak. Tanaman yang tersedia biasanya merupakan tanaman yang bisa
dijadikan bahan pembuatan biofuel. Pengolahan menjadi biofuel terkendala karena
petani tidak mempunyai teknologi untuk mengolahnya. Tanaman yang diolah akan
menghasilkan limbah bungkil ataupun produk ikutan yang bisa digunakan menjadi
pakan ternak. Tersedianya limbah pengolahan biofuel akan sangat membantu petani
untuk mengurangi biaya pengeluaran pembelian pakan, sehingga akan terjadi pola
rantai energi terbarukan dan pakan yang akan mensejahterakan petani.
Pertama,
pengolahan biodiesel melalui integrasi sapi dengan tanaman kelapa sawit. Jambi
merupakan jagonya integrasi sapi dengan tanaman sawit. Dengan adanya teknologi
bioproses untuk mengolah kelapa sawit menjadi bahan bakar biodiesel maka akan
didapat keuntungan. Pengolahan biji kelapa sawit menggunakan metode transesterifikasi
akan menghasilkan produk minyak yang bisa menggantikan bahan bakar solar tanpa
harus mengganti mesin. Selain itu, dari proses pengolahan dihasilkan bungkil
inti sawit yang bisa digunakan sebagai pakan ternak. Selanjutnya, rata-rata
feses sapi yang dihasilkan setiap harinya berkisar 25 kg/ekor/hari dikalikan
dengan jumlah sapi tersedia dari petani, ini akan menjadi potensi untuk
pembuatan biogas.
Selain sawit, tanaman Jarak juga
bisa diolah menjadi energi biodiesel sebagai pengganti bahan bakar solar.
Pengolahan 10 kg buah Jarak akan menghasilkan 3,5 liter minyak. Minyak ini bisa
digunakan untuk menjalankan generator mesin pembangkit listrik ataupun mesin
kendaraan berbahan solar. Hampir sama dengan sawit, pengolahan ini akan
menghasilkan bungkil yang bisa menjadi sumber protein bagi ternak unggas. Pemberian
pakan dari bungkil hasil olahan biodiesel ini tentu mengurangi biaya
pengeluaran bagi petani.
Kedua, Pengolahan bioetanol melalui
integrasi tanaman jagung-ternak. Jangung merupakan sumber pangan manusia maupun
sumber pakan bagi ternak. Yang bisa diolah menjadi bioetanol adalah dari
tongkol jagungnya dengan cara difermentasi. Proses fermentasi bioetanol ini
akan menghasilkan produk ikutan berupa gliserol. Gliserol ini sangat potensial
sebagai pakan ternak unggas. Keuntungan lain yang diperoleh yaitu feses unggas
(ayam) dengan rata-rata 115 gr/ekor/hari dikalikan jumlah ternak yang ada.
Feses ini dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos sebagai penyediaan pupuk
untuk usaha bagian pertaniannya.
Selain jagung, tanaman seperti
gandum, kedelai, dan juga tebu adalah tanaman penghasil bioetanol yang baik.
Namun hal ini menjadi isu dunia bahwa penyebab naiknya harga kebutuhan pokok
manusia sebagai akibat dari pengolahannya menjadi produk bioetanol. Untuk itu
pengembangan bioetanol sudah mulai berkembang dengan memanfaatkan limbah
jerami, umumnya jerami padi dan gandum dalam proses yang mirip dengan pembuatan
bir. Selama ini pemanfaatan jerami kurang dimaksimalkan, sebagian ada yang
diolah menjadi silase pakan sapi. Sekarang hanya perlu teknologi bioprosesnya
agar dapat diimplementasikan.
Ada beberapa manfaat yang bisa
didapatkan jika penyediaan teknologi bioproses pada usahatani terintegrasi
dapat terealisasi.
1. Petani
akan mendapatkan bahan bakar biofuel dan memperoleh limbah bungkil ataupun
produk ikutan dari pengolahannya yang bisa dipakai sebagai pakan ternak.
2. Jika
produksi biofuel banyak, produk bisa dijual ke Pertamina EP ataupun ke
masyarakat sekitar lokasi usaha.
3. Akan
membudidayakan penggunaan energi alternatif dan mengurangi penggunaan bahan
bakar fosil.
4. Memperoleh
biogas pengganti gas elpiji.
5. Memanfaatkan
limbah jerami yang terbuang sia-sia dirubah menjadi bioetanol.
Akhirnya,
point penting dari penyediaan teknologi bioproses pada usahatani terintegrasi
untuk mengembangkan biofuel ini adalah untuk kebaikan kita, masyarakat
Indonesia. Agar kebutuhan energi dapat terpenuhi melalui pembuatan biofuel yang
ramah lingkungan. Supaya generasi berikutnya terus bisa mengembangkan energi
alternatif yang lebih baik. Sehingga suatu hari nanti akan ada generasi yang tidak
cenderung menggunakan bahan bakar fosil. Merekalah generasi yang akan membawa
kemandirian energi.
Personal
Details:|
Full Name
|
Tanto Purnomo
|
|
Address
|
Jl. Kemajuan Perumahan Puri Masurai 1
Blok H15 Kec. Jaluko kab. Ma. Jambi
|
|
Program Study
|
S1 Peternakan
|
|
Place, Date of Birth
|
Rantau Rasau, 07 Desember 1994
|
|
City of Birth
|
Jambi
|
|
Blog
|
tantofapet.blogspot.com
|
|
Email
|
|
|
Cell Phone
|
082306524769
|
Prestasi dalam Penulisan Esai:
- Terbaik II Penulisan Esai Mahasiswa se-Provinsi Jambi dengan Judul “Pengembangan Potensi Wisata Menara Gentala Arasy untuk Menunjang Eksistensi Jambi di Era ASEAN Economic Community 2015” Oleh Kantor Bahasa Provinsi Jambi tahun 2015.
- Finalis Esai Mahasiswa se Universitas Jambi dengan judul “Swasembada Harga Mati untuk Indonesia Berdikari” Oleh : UKM EXIST Universitas Jambi Tahun 2015
Komentar
Posting Komentar