My
Android, My Smartphone
Oleh : Tanto Purnomo
Tok tok tok... (suara mengetuk pintu) ayahku
keluar untuk melihat siapa yang datang.
“Pakde, Joko ada di rumah?”
“Owalah kamu to Risky, sini masuk. Joko
ada, biasalah jam segini dia masih tidur, kebiasaan kalau hari minggu ya gitu,
bangunnya kesiangan. Kamu tunggu sebentar Pakde bangunin Joko nya.” Ayahku
bergegas membangunkanku.
Waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi. Cahaya
mentari mulai menyilaukan menembus kaca jendela kamarku. Aku keluar sambil
menggaruk-garuk kepalaku, dengan rambut mirip benang kusut. Hoaaammm... aku
melihat sudah duduk dikursi sesosok pria dengan seragam olahraga dan sedang
asyik memainkan hp. Siapa pikirku dalam hati. Aku mendekat, mendekat, semakin
dekat. Oh ternyata Risky.
“Udah lama nunggu bro?.” Tanyaku singkat
sambil menepuk bahunya karena dia lagi serius banget megang hp nya. Aku duduk
disebelahnya.
Awalnya dia menatapku lamat-lamat. Tatapannya
berubah menjadi tajam, aku takut, jangan-jangan?. Hening sejenak. Sial dia
mulai menertawaiku. Hmmm ternyata dia menganggap penampilanku lucu. Memang
belum mandi jadi ya woles sajalah.
“Gue udah nungguin loe sejak dalam mimpi
loe tau gak.” Ungkap Risky menjawab pertanyaanku tadi sambil tertawa.
Sehari sebelum hari ini, kami sudah
merencanakan untuk pergi ke kantor gubernur yang tak jauh dari rumahku. Ada
acara jalan santai dan panitia telah menyiapkan hadiah yang menarik dalam
jumlah yang banyak.
Sebenarnya aku merasa terganggu jika harus
mengobrol dengan orang yang asyik memainkan hp. Emang sih hp nya canggih, tapi
kehadirannya membuat kedekatan ini terasa jauh. Terkadang yang diobrolkan pun
jadi gak nyambung.
Aku termasuk orang yang tidak setuju dengan
maraknya hp canggih di pasaran. Bukan salah perusahaan yang memproduksi, tapi
hp canggih ini sudah digunakan oleh anak-anak yang masih dibawah umur. Sering
kita lihat anak kecil sedang duduk dengan lincahnya memainkan hp atau yang
disebut gadget itu. Terlihat begitu miris anak-anak yang seharusnya belajar dan
bermain tradisional malah memainkan permainan yang ada pada gadget. Saat mereka
asyik memainkan game ataupun internet mereka lupa dengan lingkungan sekitarnya.
Rasa kebersamaannya berkurang.
Anak-anak harus mengikuti perkembangan IT
agar gak ketinggalan zaman. Gadget membantu dalam kegiatan belajar. Itulah
sebagian alasan orangtua yang mengizinkan anaknya menggunakan gadget.
Perusakan moral anak bangsa. Kasus-kasus
pelecehan seksual berawal dari mudahnya mengakses situs internet menggunakan
gadget canggih itu. Generasi muda menjadi malas ! Mereka lebih suka
bersosialisasi dengan akun media sosialnya. Ini serius.
***
Pukul 06.45 Pagi...
“Ko, pagi-pagi sudah nglamun. Cepat mandi
siap-siap kita ikut jalan santai.” Ujar Risky menyadarkanku dari lamunan luapan
emosi dalam diri terkait gadget.
Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas
untuk mandi dan bersiap untuk pergi.
Pukul 07.00 menuju lokasi Gubernuran...
Hari ini benar-benar ramai. Tua muda dan
anak-anak semua nya berbondong-bondong, karena memang banyak hadiah yang
disediakan oleh panitia. Akupun bersemangat.
Lagi-lagi Risky mengeluarkan hp canggihnya
itu. Karena heran dan ingin tahu akhirnya aku bertanya apa alasan mengguanakan
hp canggih itu karena menurutku hp canggih itu gak baik dan aku juga bertanya
apa yang sedang dikerjakan dengan hp nya itu.
Risky mulai menjelaskan alasannya
menggunakan hp canggih itu dan apa yang sedang dikerjakannya.
“Kamu harus tau Ko, Hp canggih bukan
berarti gak baik untuk kita yang masih remaja ini. Alasanku menggunakan hp ini
untuk tujuan bisnisku. Kamu kan tau kalau aku jualan baju, aku sedang
menggunakan akun medsos ku untuk keperluan pemasaran dan promosiin barang
daganganku. Selain itu, disela-sela kesibukanku berjualan aku juga aktif
menulis, jadi aku gunakan hp ini untuk mencari referensi.” Jawab Risky yang
terus asyik memainkan hp nya. Terkadang tersenyum sendiri.
“kamu lihat disekeliling kita. Rata-rata
semua orang megang hp canggih yang menurutmu gak baik itu Ko. Bukan hp nya yang
gak baik tapi orang yang memakainya terkadang menyalahi aturan. Makanya kita
dituntut untuk bijak dalam menggunakannya dan harus kearah yang positif.”
Tambah Risky.
Aku cuma mengangguk saja, terasa masih
belum puas dengan jawaban itu. Tapi aku mulai sadar ternyata benar yang salah
bukan hp nya tapi orang yang memakainya. Ah lupakan sajalah.
Pukul 08.30 Kupon dikumpulkan dikotak
pengundian...
Dibawah sinar mentari yang hangat, keringat
yang terkucur saat keliling bersama masyarakat jalan santai, aku duduk di bawah
pohon sembari menikmati dinginnya es kelapa muda. Segar.
Tak lama pengundian pun dimulai. Motor aku
tak dapat, mobil lewat, setrika melayang. Ah aku mulai kesal, seperti ada
penyesalan kenapa harus ikut acara yang peluang dapatnya Cuma sepersekian ribu.
Tapi undian belum berakhir.
003107... awalnya aku acuh. 003107 suara
itu diulang oleh pembawa acara. Aku mulai melihat kuponku. Ya ya ya itu nomer
undianku. Pembawa acara mulai membacakan ulang nomer undian untuk terakhir kali
jika tidak ada akan dianggap hangus. Aku berlari menuju pentas itu, melewati
masyarakat yang tumpahruah bagai pagar yang sulit ditembus. Itulah perjuangan.
Sampailah aku diatas pentas untuk menerima
hadiahnya. Android berwarna putih sudah kupegang. Aku tercengang seperti rasa
tak percaya jika kupon yang ku pegang akan keluar.
Setelah ini apa pikirku. Aku yang dari dulu
menentang penggunaan hp canggih kini malah mendapatkan hp canggih itu. Apa aku
harus menjualnya lagi? Sepertinya tidak mungkin.
Risky datang menghampiriku, “Itu sudah
menjadi milikmu. Walaupun kamu pernah menentangnya, tapi itu adalah rezekimu.
Gunakanlah secara bijak, itulah hp canggih yang disebut smartphone. Tak perlu
menyesal.” Ujar Risky meyakinkanku untuk menggunakan hp Android baru itu.
Aku tersenyum sedikit malu. Tapi benar
juga, hp canggih tak pernah salah. Tangan dan akal manusialah yang merubahnya
menjadi salah.
-The
End-
Komentar
Posting Komentar